Laporan Kunjungan Museum 10 November Surabaya
Lokasi
dari Museum Sepuluh November ini berada di daerah Surabaya bagian tengah, tepatnya
di Jalan Pahlawan Surabaya yang berada di dekat Kantor Gubernur Jawa Timur.
Museum ini berada di bawah lahan tanah Tugu Pahlawan sedalam 7 meter.
Museum
ini dibangun dengan tujuan mengenang jasa para pahlawan-pahlawan Surabaya yang
gugur ketika pertempuran 10 November 1945 demi mempertahankan kemerdekaan dari
para penjajah yang kembali untuk mengambil alih. Tujuan lain dari museum ini
adalah untuk menjaga barang-barang yang berkaitan dengan peristiwa 10
November. Bangunan tersebut mulai
dibangun pada tahun 1990-an dan kemudian
diresmikan pada tahun 2000, tepatnya tanggal 19 Febuari 2000 oleh Presiden K.
H. Abdurrahman Wahid.
Pengelola
dari Museum Sepuluh November sekaligus Tugu Pahlawan adalah UPTD (Unit
Pelaksana Teknis Dinas) Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh November yang juga
membawahi museum-museum di Surabaya. Mereka mendapat dana untuk mengelola
museum ini setahun sekali dan biasanya digunakan untuk merenovasi dan
mengembangkan bangunan tersebut. Harga tiket masuk per-orang adalah Rp 5.000,-,
sementara untuk para pelajar yang datang dan membawa kartu pelajar, mereka
tidak perlu membayar tiket, hanya tinggal menunjukkan kartu pelajar dan mengisi
buku tamu. Untuk jam operasional pada hari-hari kerja (Senin- Jumat) mereka
buka pada 08.00 – 16.00 WIB, sementara pada akhir minggu mereka mulai buka
lebih awal, namun dengan durasi/ jangka waktu yang sama, yaitu 07.00- 15.00
WIB. Selain itu, mereka tidak menetapkan jam operasional yang pasti terkhusus
pada Hari Pancasila.
(Sumber: Tredoria.com)
Pada tanggal 12 Mei 2018, anak-anak jurusan
VCD UC angkatan 2017 pergi ke Museum 10 November untuk menjalani kuliah
lapangan mata kuliah Ilmu Sosial dan Budaya (ISBD). Kami berkumpul di depan
Museum 10 November pada sekitar jam 08.00 sesuai dengan jam buka museum ini. Di
depan museum tersebut terdapat Tugu Pahlawan serta makam umum pahlawan-pahlawan
tanpa nama yang gugur pada saat pertempuran 10 November 1945. Makam umum
tersebut menurut informasi yang saya dapatkan, berada di belakang dari patung
yang berada di dekat museum (patung 3 orang yaitu, patung dari Bung
Tomo, Doel Arnowo, dan Gub. Soerjo
yang menggambarkan perjuangan keras mereka serta para pemuda Surabaya kala itu demi
mempertahankan NKRI dari penjajah yang dating untuk merebut kembali kemerdekaan
Indonesia yang belum lama dikumandangkan).
Sebelum kami masuk, kami terlebih dahulu
menunjukkan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) kami, sementara beberapa teman kami
yang tidak membawa kartu tanda mahasiswa mereka akhirnya harus membayar biaya
karcis sebesar Rp 5.000,-. Setelah menunjukkan kartu mahasiswa/ membeli karcis,
kami harus mengisi buku tamu (karena kami mewakili universitas, maka kami
menulis nama universitas kami). Hal pertama yang bisa dilihat ketika masuk
adalah sebuah limas besar yang digantung/ ditempel terbalik di langit-langit
ruangan. Limas itu memuat gambar bangunan-bangunan lama bersejarah. Di dinding
pada jalan menurun tersebut, ada relief peperangan 10 November yang digantung.
Setelah
berjalan turun mengikuti jalan dan eskalator turun, kami menemukan spot foto yang
lumayan menarik, dimana kami bisa berpose sebagai salah satu pemuda Surabaya
yang ikut berjuang melawang penjajah pada peperangan 10 November itu.
Setelah
itu di sepanjang jalan menuju pintu masuk museum, terdapat potret-potret yang
menunjukkan sejarah pembangunan Tugu Pahlawan, jembatan kereta api dan trem di
Jalan Pahlawan, serta Kantor Pos dan Giro Kebon Rejo.
Di depan pintu masuk
museum ada maket dari Taman Monumen Tugu Pahlawan, papan kenangan yang memuat
nama-nama dari tokoh yang berjuang pada pertempuran 10 November itu (bahkan
untuk para pahlawan yang tidak dikenal, para pemuda yang mati di medan perang,
mereka menulis “ Gugur Tak Dikenal Lebih Dari Sepuluh Ribu”), dan ada juga
semacam daftar barang-barang/ koleksi-koleksi yang ditunjukkan di setiap
lantainya (ada 2 lantai di Museum 10 November ini).
Pada lantai pertama, sesuai dari daftar
yang ada di depan pintu masuk, ada beberapa zona. Yang pertama bisa dilihat
dengan jelas adalah patung yang berada di tengah-tengah ruangan. Patung yang
menceritakan perjuangan hebat dari para pemuda Surabaya kala itu serta
pengorbanan yang mereka berikan demi mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan
Republik Indonesia dari tangan penjajah.
Jika kami berbelok ke kiri kami bisa
menemukan sederet papan menyala dengan total 6 papan (masing-masing di sisi
kiri dan kanan) yang berisi tentang sejarah-sejarah Surabaya pada masa
proklamasi RI.
Sementara di tengah deretan papan-papan informasi itu ada koleksi
barang-barang yang berkaitan dengan proklamasi kemerdekaan RI. Ada mesin ketik
dengan merk Underwood yang disumbangkan untuk menjadi salah satu koleksi museum
ini oleh Hariadi Suparto. Mesin ketik ini memegang peranan besar kala itu
sebagai media informasi dan telekomunikasi. Mesin ketik itu didapat dari
peninggalan kolonial Belanda dan pernah digunakan beberapa kali oleh para
pejuang kemerdekaan, seperti saat peperangan 10 November serta Agresi Militer
Belanda I & II.
Selain mesin ketik, ada juga kamera handycam yang dulunya
pernah digunakan sebagai sarana jurnalistik masa itu. Kamera handycam ini ber-merk
Filmo, produksi tahun 1923, dan diproduksi di Amerika Serikat. Bapak Hariadi
Suparto juga merupakan penyumbang barang koleksi ini.
Museum ini juga memiliki
kalender dengan bahasa Jawa tepat pada bulan Agustus 1945 sebagai salah satu
koleksinya.
Tas medis juga ikut menjadi koleksi yang dipajangkan bersama
barang-barang yang tadi sudah disebutkan. Tas medis ini merupakan tas medis
yang pernah digunakan oleh seorang dokter yang kala itu ikut membantu di garis
belakang pasukan dengan merawat pasukan yang terluka, dokter itu bernama dr.
Agusni, ia merupakan seorang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas
Nippon Daigaku (sekarang dikenal sebagai Universitas Indonesia). Di sebelah
zona Surabaya di masa proklamasi RI, ada mannequin yang mengenakan pakaian
seragam tentara/ pasukan rakyat saat itu.
Selain itu ada juga rekaman radio pidato
Bung Tomo yang mengobarkan semangat para pejuang Surabaya kala itu yang diputar
berulang kali dan dilengkapi dengan patung yang melambangkan kejadian tersebut.
Juga ada pistol yang digunakan oleh Hario Kecik, salah seorang pemimpin pasukan
yang berhasil menewaskan tentara Inggris pada peperangan di bulan Oktober dan
November pada tahun 1945. Pistol ini juga merupakan hasil jarahan yang mereka
dapat dari para tentara Belanda dan merupakan salah satu pistol yang lumayan
dikenal oleh dunia karena banyak dipakai oleh negara-negara yang mengadakan
revolusi.
Masih di lantai pertama, ada juga beberapa miniatur yang menjelaskan
tentang jalur mengungsi para rakyat Surabaya setelah peperangan berakhir. Ada
juga naskah dan tongkat milik Mayjend. Sungkono serta mata uang yang pernah
dipakai pada masa-masa itu (berupa beberapa jenis uang kertas serta uang
koin/logam).
Di lantai kedua, terdapat banyak koleksi
senjata yang pernah dipakai para pejuang Surabaya serta beberapa alat medis. Senjata-senjata
tersebut menurut guide kami, mereka dapatkan dengan merampas senjata-senjata
milik tentara Belanda dan dibagi secara acak diantara para pejuang muda itu.
Namun, tidak semua pejuang mendapatkan hasil jarahan senjata canggih, banyak di
antara mereka yang tidak mendapat senjata akhirnya memakai bambu runcing yang pada
akhirnya membuat para pejuang Surabaya dikenal dan diingat dengan bambu
runcing. Selain itu, menurut guide kami, banyak dari pejuang muda yang memakai bambu
runcing yang akhirnya gugur di medan perang karena kalah dengan senjata canggih
yang dimiliki oleh lawan. Ada beberapa barang medis yang kami lihat di lantai
kedua ini seperti perban dan suntik. Juga tidak ketinggalan, diorama-diorama
yang menggambarkan situasi lapangan saat perang 10 November dan kondisi-kondisi
lapangan saat itu. Seperti pada pintu masuk awal, di atas langit-langit juga
terdapat bentuk limas segi-empat yang dibalik dan digantung/tempel, namun kali
ini buka berisi foto-foto bangunan, tapi foto-foto tokoh-tokoh terkenal yang
berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Yang menarik adalah, patung yang
berada di tengah lantai pertama tadi itu bisa dilihat dari lantai kedua (karena
ada bolongan di lantai kedua) sehingga patung itu terlihat seperti sedang
berteriak kepada para pengunjung yang melihat patung itu dari atas.
Setelah melihat koleksi-koleksi yang ada di
museum itu, saya mendapat banyak sekali wawasan baru, terlebih dengan
penjelasan dari guide. Saya rasa, Museum 10 November ini benar-benar harus
dikunjungi oleh masyarakat Indonesia setidaknya sekali, karena lewat museum
ini, saya belajar untuk lebih menghargai kemerdekaan yang sudah mereka rebut
selama lebih dari 72 tahun yang lalu. Museum ini juga bisa menjadi sumber
ekonomi bagi pemilik toko yang berada di dekat pintu keluar museum yang menjual
beberapa cenderamata.
Kondisi museum sebenarnya lebih baik
dari yang saya kira. Saya awalnya
mengira bahwa museum ini akan memiliki desain bangunan yang sangat kuno dan
membosankan, tapi nyatanya saya lumayan senang dengan desain yang mereka
gunakan. Saya juga merasa bahwa penataan barang-barang koleksi di dalamnya
sudah lumayan baik karena dibagi dalam beberapa zona yang saling berkaitan.
Namun, saya rasa perawatan mereka masih kurang baik. Beberapa kaca yang
digunakan untuk melindungi koleksi-koleksi itu terlihat sudah lama tidak
dibersihkan, padahal saat itu saya datang pada waktu pagi, seharusnya ada
orang-orang yang bertanggung jawab dengan kebersihan dari museum ini. Lalu saya
rasa beberapa peringatan untuk tidak menyentuh barang pajangan itu terlalu
kecil, sehingga banyak orang yang akan tanpa sengaja memegang barang koleksi
itu tanpa melihat maupun mengetahui bahwa sebenarnya mereka tidak boleh
memegang koleksi itu. Diorama juga sepertinya kurang terawat sehingga saya kurang
bisa menikmati diorama itu dengan baik.
Saya
rasa, Museum 10 November ini patut dikunjungi oleh para pelajar dan mahasiswa,
karena pada masa-masa itulah mereka membangun kecintaan mereka pada bangsa
sendiri. Walaupun memiliki isi koleksi yang sudah cukup memadai, tapi tetap
pengelolaan yang baik sangat diperlukan sehingga dapat lebih menarik para
pengunjung dan membuat para pengunjung merasa nyaman.



























No comments:
Post a Comment