Sunday, May 27, 2018

Laporan Kunjungan Museum 10 November Surabaya


Laporan Kunjungan Museum 10 November Surabaya


Lokasi dari Museum Sepuluh November ini berada di daerah Surabaya bagian tengah, tepatnya di Jalan Pahlawan Surabaya yang berada di dekat Kantor Gubernur Jawa Timur. Museum ini berada di bawah lahan tanah Tugu Pahlawan sedalam 7 meter.
Museum ini dibangun dengan tujuan mengenang jasa para pahlawan-pahlawan Surabaya yang gugur ketika pertempuran 10 November 1945 demi mempertahankan kemerdekaan dari para penjajah yang kembali untuk mengambil alih. Tujuan lain dari museum ini adalah untuk menjaga barang-barang yang berkaitan dengan peristiwa 10 November.  Bangunan tersebut mulai dibangun pada tahun 1990-an  dan kemudian diresmikan pada tahun 2000, tepatnya tanggal 19 Febuari 2000 oleh Presiden K. H. Abdurrahman Wahid.
Pengelola dari Museum Sepuluh November sekaligus Tugu Pahlawan adalah UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas) Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh November yang juga membawahi museum-museum di Surabaya. Mereka mendapat dana untuk mengelola museum ini setahun sekali dan biasanya digunakan untuk merenovasi dan mengembangkan bangunan tersebut. Harga tiket masuk per-orang adalah Rp 5.000,-, sementara untuk para pelajar yang datang dan membawa kartu pelajar, mereka tidak perlu membayar tiket, hanya tinggal menunjukkan kartu pelajar dan mengisi buku tamu. Untuk jam operasional pada hari-hari kerja (Senin- Jumat) mereka buka pada 08.00 – 16.00 WIB, sementara pada akhir minggu mereka mulai buka lebih awal, namun dengan durasi/ jangka waktu yang sama, yaitu 07.00- 15.00 WIB. Selain itu, mereka tidak menetapkan jam operasional yang pasti terkhusus pada Hari Pancasila.

(Sumber: Tredoria.com)


     Pada tanggal 12 Mei 2018, anak-anak jurusan VCD UC angkatan 2017 pergi ke Museum 10 November untuk menjalani kuliah lapangan mata kuliah Ilmu Sosial dan Budaya (ISBD). Kami berkumpul di depan Museum 10 November pada sekitar jam 08.00 sesuai dengan jam buka museum ini. Di depan museum tersebut terdapat Tugu Pahlawan serta makam umum pahlawan-pahlawan tanpa nama yang gugur pada saat pertempuran 10 November 1945. Makam umum tersebut menurut informasi yang saya dapatkan, berada di belakang dari patung yang berada di dekat museum (patung 3 orang yaitu, patung dari Bung Tomo, Doel Arnowo, dan Gub. Soerjo yang menggambarkan perjuangan keras mereka serta para pemuda Surabaya kala itu demi mempertahankan NKRI dari penjajah yang dating untuk merebut kembali kemerdekaan Indonesia yang belum lama dikumandangkan).



     Sebelum kami masuk, kami terlebih dahulu menunjukkan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) kami, sementara beberapa teman kami yang tidak membawa kartu tanda mahasiswa mereka akhirnya harus membayar biaya karcis sebesar Rp 5.000,-. Setelah menunjukkan kartu mahasiswa/ membeli karcis, kami harus mengisi buku tamu (karena kami mewakili universitas, maka kami menulis nama universitas kami). Hal pertama yang bisa dilihat ketika masuk adalah sebuah limas besar yang digantung/ ditempel terbalik di langit-langit ruangan. Limas itu memuat gambar bangunan-bangunan lama bersejarah. Di dinding pada jalan menurun tersebut, ada relief peperangan 10 November yang digantung. 



Setelah berjalan turun mengikuti jalan dan eskalator turun, kami menemukan spot foto yang lumayan menarik, dimana kami bisa berpose sebagai salah satu pemuda Surabaya yang ikut berjuang melawang penjajah pada peperangan 10 November itu. 



Setelah itu di sepanjang jalan menuju pintu masuk museum, terdapat potret-potret yang menunjukkan sejarah pembangunan Tugu Pahlawan, jembatan kereta api dan trem di Jalan Pahlawan, serta Kantor Pos dan Giro Kebon Rejo. 







Di depan pintu masuk museum ada maket dari Taman Monumen Tugu Pahlawan, papan kenangan yang memuat nama-nama dari tokoh yang berjuang pada pertempuran 10 November itu (bahkan untuk para pahlawan yang tidak dikenal, para pemuda yang mati di medan perang, mereka menulis “ Gugur Tak Dikenal Lebih Dari Sepuluh Ribu”), dan ada juga semacam daftar barang-barang/ koleksi-koleksi yang ditunjukkan di setiap lantainya (ada 2 lantai di Museum 10 November ini).






     Pada lantai pertama, sesuai dari daftar yang ada di depan pintu masuk, ada beberapa zona. Yang pertama bisa dilihat dengan jelas adalah patung yang berada di tengah-tengah ruangan. Patung yang menceritakan perjuangan hebat dari para pemuda Surabaya kala itu serta pengorbanan yang mereka berikan demi mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari tangan penjajah. 


 Jika kami berbelok ke kiri kami bisa menemukan sederet papan menyala dengan total 6 papan (masing-masing di sisi kiri dan kanan) yang berisi tentang sejarah-sejarah Surabaya pada masa proklamasi RI. 




Sementara di tengah deretan papan-papan informasi itu ada koleksi barang-barang yang berkaitan dengan proklamasi kemerdekaan RI. Ada mesin ketik dengan merk Underwood yang disumbangkan untuk menjadi salah satu koleksi museum ini oleh Hariadi Suparto. Mesin ketik ini memegang peranan besar kala itu sebagai media informasi dan telekomunikasi. Mesin ketik itu didapat dari peninggalan kolonial Belanda dan pernah digunakan beberapa kali oleh para pejuang kemerdekaan, seperti saat peperangan 10 November serta Agresi Militer Belanda I & II. 



Selain mesin ketik, ada juga kamera handycam yang dulunya pernah digunakan sebagai sarana jurnalistik masa itu. Kamera handycam ini ber-merk Filmo, produksi tahun 1923, dan diproduksi di Amerika Serikat. Bapak Hariadi Suparto juga merupakan penyumbang barang koleksi ini. 

 

 Museum ini juga memiliki kalender dengan bahasa Jawa tepat pada bulan Agustus 1945 sebagai salah satu koleksinya. 


Tas medis juga ikut menjadi koleksi yang dipajangkan bersama barang-barang yang tadi sudah disebutkan. Tas medis ini merupakan tas medis yang pernah digunakan oleh seorang dokter yang kala itu ikut membantu di garis belakang pasukan dengan merawat pasukan yang terluka, dokter itu bernama dr. Agusni, ia merupakan seorang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Nippon Daigaku (sekarang dikenal sebagai Universitas Indonesia). Di sebelah zona Surabaya di masa proklamasi RI, ada mannequin yang mengenakan pakaian seragam tentara/ pasukan rakyat saat itu. 



Selain itu ada juga rekaman radio pidato Bung Tomo yang mengobarkan semangat para pejuang Surabaya kala itu yang diputar berulang kali dan dilengkapi dengan patung yang melambangkan kejadian tersebut.



Juga ada pistol yang digunakan oleh Hario Kecik, salah seorang pemimpin pasukan yang berhasil menewaskan tentara Inggris pada peperangan di bulan Oktober dan November pada tahun 1945. Pistol ini juga merupakan hasil jarahan yang mereka dapat dari para tentara Belanda dan merupakan salah satu pistol yang lumayan dikenal oleh dunia karena banyak dipakai oleh negara-negara yang mengadakan revolusi. 

 
Masih di lantai pertama, ada juga beberapa miniatur yang menjelaskan tentang jalur mengungsi para rakyat Surabaya setelah peperangan berakhir. Ada juga naskah dan tongkat milik Mayjend. Sungkono serta mata uang yang pernah dipakai pada masa-masa itu (berupa beberapa jenis uang kertas serta uang koin/logam).


 
     Di lantai kedua, terdapat banyak koleksi senjata yang pernah dipakai para pejuang Surabaya serta beberapa alat medis. Senjata-senjata tersebut menurut guide kami, mereka dapatkan dengan merampas senjata-senjata milik tentara Belanda dan dibagi secara acak diantara para pejuang muda itu. Namun, tidak semua pejuang mendapatkan hasil jarahan senjata canggih, banyak di antara mereka yang tidak mendapat senjata akhirnya memakai bambu runcing yang pada akhirnya membuat para pejuang Surabaya dikenal dan diingat dengan bambu runcing. Selain itu, menurut guide kami, banyak dari pejuang muda yang memakai bambu runcing yang akhirnya gugur di medan perang karena kalah dengan senjata canggih yang dimiliki oleh lawan. Ada beberapa barang medis yang kami lihat di lantai kedua ini seperti perban dan suntik. Juga tidak ketinggalan, diorama-diorama yang menggambarkan situasi lapangan saat perang 10 November dan kondisi-kondisi lapangan saat itu. Seperti pada pintu masuk awal, di atas langit-langit juga terdapat bentuk limas segi-empat yang dibalik dan digantung/tempel, namun kali ini buka berisi foto-foto bangunan, tapi foto-foto tokoh-tokoh terkenal yang berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Yang menarik adalah, patung yang berada di tengah lantai pertama tadi itu bisa dilihat dari lantai kedua (karena ada bolongan di lantai kedua) sehingga patung itu terlihat seperti sedang berteriak kepada para pengunjung yang melihat patung itu dari atas.




     Setelah melihat koleksi-koleksi yang ada di museum itu, saya mendapat banyak sekali wawasan baru, terlebih dengan penjelasan dari guide. Saya rasa, Museum 10 November ini benar-benar harus dikunjungi oleh masyarakat Indonesia setidaknya sekali, karena lewat museum ini, saya belajar untuk lebih menghargai kemerdekaan yang sudah mereka rebut selama lebih dari 72 tahun yang lalu. Museum ini juga bisa menjadi sumber ekonomi bagi pemilik toko yang berada di dekat pintu keluar museum yang menjual beberapa cenderamata.
     Kondisi museum sebenarnya lebih baik dari  yang saya kira. Saya awalnya mengira bahwa museum ini akan memiliki desain bangunan yang sangat kuno dan membosankan, tapi nyatanya saya lumayan senang dengan desain yang mereka gunakan. Saya juga merasa bahwa penataan barang-barang koleksi di dalamnya sudah lumayan baik karena dibagi dalam beberapa zona yang saling berkaitan. Namun, saya rasa perawatan mereka masih kurang baik. Beberapa kaca yang digunakan untuk melindungi koleksi-koleksi itu terlihat sudah lama tidak dibersihkan, padahal saat itu saya datang pada waktu pagi, seharusnya ada orang-orang yang bertanggung jawab dengan kebersihan dari museum ini. Lalu saya rasa beberapa peringatan untuk tidak menyentuh barang pajangan itu terlalu kecil, sehingga banyak orang yang akan tanpa sengaja memegang barang koleksi itu tanpa melihat maupun mengetahui bahwa sebenarnya mereka tidak boleh memegang koleksi itu. Diorama juga sepertinya kurang terawat sehingga saya kurang bisa menikmati diorama itu dengan baik.
     Saya rasa, Museum 10 November ini patut dikunjungi oleh para pelajar dan mahasiswa, karena pada masa-masa itulah mereka membangun kecintaan mereka pada bangsa sendiri. Walaupun memiliki isi koleksi yang sudah cukup memadai, tapi tetap pengelolaan yang baik sangat diperlukan sehingga dapat lebih menarik para pengunjung dan membuat para pengunjung merasa nyaman.